celoteh

Mental koruptor

07.28.10 | Permalink | 18 Comments

Mas igo temen kami, seorang supir di negeri antah berantah.
Alkisah, mas igo didatengin seorang bapak2 utusan dari sebuah institusi yg mau nyewa 15 mobil selama seminggu.
Setelah tawar menawar panjang, disepakatilah harga 600rb/mobil/hari.

Mas igo yg cuma punya mobil sebiji langsung ngontak temen2nya buat menuhin quota 15 biji ntu.
Dapet.
Tiba-tiba si bapak utusan bilang gini, “Mas, buat mastiin jadi enggaknya, permobil dihargai 50rb/mobil/hari yaa”
maksudnya?
“Maksudnya, sampeyan kasih ke saya, yaa kira2 5jt-an lah buat tanda ‘jadi’.”
Koploook tenan!!

Mas igo  serta-merta menolak,
“wah maaf aja, Pak, saya ini perusahaan kecil. Kalau harus nyediain duit segitu, ya nda ada!”
Bapak utusan ga kehilangan akal, langsung menukas,
“kalo gtu nanti di kuitansinya ditulis 650rb/mobil/hari yaa.”
*dasaaar mental koruptooor!!*

Mas igo mikir-mikir, “ya sudah, pak, klo begitu saya masih sanggup.”
*yaah ini lagi!*
Kata mas igo membela diri, “abis gimana ya, Mas, mobil2nya sudah dicarter. Klo dibatalin, rugi saya.”

Singkat cerita. Padat kata.
Institusi tadi akhirnya make jasa-nya Mas igo. Tapi dibayar belakangan.
“Nanti,” kata si bapak utusan, “nunggu yang dari bendahara cair.”

Mas igo menyabarkan diri. Gapapa deh, namanya juga permintaan ‘gede’. Mau di depan ato belakang, yang penting toh ntar juga dibayar.

Begitulah.
Ketika waktunya udah lewat, dan semuanya udah beres.
Dengan riang gembira mas igo ngadep bendahara.
Mau nyairin rejeki!
Langsung disambut dengan pengumuman ga penting tapi nyesek bangeud,
“Pak dipotong 25rb/mobil/hari yaa, buat administrasi. Daripada ga cair.”
*mas igo bengong…*

celoteh

Melampaui Keserakahan Seekor Nyamuk

07.21.10 | Permalink | 31 Comments

Review Buku

Iqra, Bacalah.

Dalam buku Membumikan Al-qur’an, seorang besar Quraish Shihab menguraikan falsafah iqra.

Iqra hakikatnya adalah ‘menghimpun’ dan hal tersebut meliputi menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-cirinya, dan sebagainya, yang kesemuanya dapat dikembalikan ke hakikat ‘menghimpun’.

Dengan kata lain, cakupan iqra tidak hanya buku, kitab, koran, majalah atau media baca lainnya namun meliputi tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri maupun kejadian-kejadian alam. Yang terlihat maupun yang tak terlihat. Dari matahari, bulan, negeri-negeri maupun sebuah keran air. Ya, keran air!

Ngomong-ngomong tentang benda kecil ini, Kearah mana biasanya anda memutar sebuah keran air? Berlawanan arah jarum jam bukan.
Tapi pernahkah anda mendapati sebuah keran air yang justru harus diputar sebaliknya? Aku pernah. Dan begitu pula dengan seorang Dadang Kadarusman.

Bedanya, keblug menganggap hal itu sebagai sebuah cacat produksi yang menyedihkan atau paling banter kenyelenehan  karena ingin tampil beda. Lalu melupakannya begitu saja.
Sedangkan Pak Dadang tidak berhenti disitu. Beliau ‘iqra’. Beliau membaca dan merenungi sebuah pembelajaran yg tersembunyi di balik sebuah keran air nyleneh itu. Kemudian mengikatnya dalam sebuah tulisan.

Keran air aneh itu seolah mengingtkan kita bahwa paradigma yang selama ini kita yakini benar itu belum tentu benar-benar ‘benar’. Bayangkan seandainya Anda menemukan keran air seperti itu, lalu Anda bersikeras untuk membukanya dengan memutar ke arah kiri. Sekuat apapun Anda, tidak akan bisa membuat keran itu mengalirkan air. Barangkali, hidup kita juga demikian.  Bisa jadi setiap kegagalan yang kita alami itu bukan karena nasib semata melainkan karena kita terlampau keras kepala untuk melakukan segala sesuatunya sesuai keinginan kita. Padahal, bahkan keran air pun memiliki aturannya sendiri.

Selama ini saya memahaminya sebagai janji Tuhan untuk membantu kita mengubah nasib, kalau kita bersedia untuk berusaha. Namun, keran air aneh itu mengenalkan saya pada kemungkinan lain bahwa yang dimaksudkan Tuhan mungkin bukanlah sekadar bersedia melakukannya sendiri. Melainkan bersedia “mengubah diri sendiri”.

Ketika kita bersedia mengubah diri maka kita akan mampu menyesuaikan diri. Ketika kita mampu menyesuaikan diri maka kita mempunyai peluang yang lebih besar untuk berhasil. Logislah jika Tuhan menginginkan kita untuk mengubah diri sendiri. Setelah itu, Dia memperkenankan kita untuk mengubah nasib kita, menjadi lebih baik.

Keren! :)

Bagaimana sebuah tulisan tentang keran air bisa menyindir cara berfikir seseorang (keblug maksudnya) sekaligus menggelitik satu komitmen perubahan dalam diri seseorang. (Sekali lagi keblug. Doa’kan semoga bisa konsisten ya, hihi).

Dan tulisan se-keren ini tak cuma satu lho!
Dalam buku Melampaui Keserakahan Seekor Nyamuk, buku pertama dari trilogi natural intellegence, masih ada 49 cerita inspiratif lainnya yang ditambang dari kejadian-kejadian sepele yg sering berpapasan dengan kehidupan kita. (Yang kemungkinan besar kalau aku sendiri yg bersinggungan dgn hal tersebut, pasti luput dari perhatian)

Cerita tentang seekor kerang kritip, nyamuk, laron bahkan sebuah ban tubeless. Menghibur sekaligus menggugah.

Selayaknya buku ini bisa setenar buku Si Cacing, tapi karena covernya itu lho,  suram dan gambar nyamuknya seram, jadi agak-agak gimanaaa… gitu! (masukan ajah nih, Pak! :D ) Untunglah buku kedua dan ketiga ilustrasinya improved. :)

Ohya, tambahan good news, kalau susah mendapatkan buku-buku ini di toko buku, langsung aja pesan online ke Pak Dadangnya di sini (Kan bisa minta tanda tangan sekalian hihihi…) Ada juga buku freenya lho. Belajar Sukses Kepada Alam.

Baiklah, keblug mau undur diri dulu. Waktunya membaca buku ke dua (Ketika Kuda, Semut dan Gajah Bekerja). hehehe…


drama

Mengamalkan Pancasila

07.17.10 | Permalink | 12 Comments

Sila keempat butir ke 3: Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.

Malam itu aku dan temen-temen sekosan melaksanakan rapat darurat di ruang tengah. Bukan hal yang aneh, namun baru kali ini dalam sebuah pertemuan yg tidak melibatkan IPK atau duit, aku mendekap erat dadaku yang berdebar-debar. Ide mereka itu lho. Sungguh membuatku siyok!

Kita harus mengirit!
setujuuu…
Kita harus hidup sehat!
setujuuu…
Kita akan masak sendiri.
eh!?
Bergilir. Masing-masing 3 hari.
sialan.

Sila keempat butir ke 4: Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh SEMANGAT kekeluargaan.

“Aku menolak!! Pokok-e menolak!! NDAK SUETUJUUU!!”
Sepi.Rapat sudah bubar.

Sila keempat butir ke 10: Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

Keblug diseret ke dapur.

Sila keempat butir ke 6: Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.

Keblug bikin TELOR CEPLOK.

Sila keempat butir 9: Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

Besoknya TELOR DADAR

Sila keempat butir ke 2: Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.

Tapi boleh memaksakan menu.
Besoknya TELOR SAMBEL.

Teman-teman nyaris menangis…
“aku bisulan…”
“kentutku bau ga?”
“ho oh! kentutku?”
“bangke…”
“huhuhu…”

Di kamar, keblug cekakak cekikik sambil makan Tongseng dan nyeruput jus alpokat  (beli di kantin).
enyak enyak enyak… :mrgreen:

« Previous Entries


Switch to our mobile site