Seorang Alexander Calandra di minta menjadi wasit antara mahasiswa dan dosennya yang berdebat tentang penilaian suatu pertanyaan fisika. Dosen tersebut ingin memberikan nilai nol atas jawaban mahasiswanya. Namun Sang mahasiswa bersikeras bahwa seharusnya ia mendapat nilai penuh atas jawabannya. Pertanyaannya: Uraikan cara menentukan ketinggian suatu gedung tinggi dengan bantuan Barometer!
Jawaban sang mahasiswa: “bawa Barometer itu ke puncak gedung, ikatkan dengan tali turunkan sampai ke jalan, lalu tarik dan hitung panjang tali.”
Alexander (wasit) Menyatakan kedudukan sang mahasiswa tersebut memang kuat untuk mendapat nilai penuh karena ia benar-benar menjawab dengan lengkap dan benar. Tetapi bila di beri nilai penuh, hal ini tidak mengkonformasikan kemampuan mahasiswa dalam ilmu fisika. Alexander meminta sang mahasiswa tersebut menjawabnya lagi dalam waktu enam menit dengan syarat ada unsur fisika dalam jawabannya. Sang mahasiswa dan dosennya pun setuju akan hal itu.
Pada akhir lima menit, sang mahasiswa belum menuliskan jawaban apapun. Sang wasit sempat bertanya, apakah ia sudah menyerah. Sang mahasiswa menjawab bahwa sebenarnya ada banyak cara untuk menjawabnya, namun ia hanya memikirkan mana yang terbaik.
Akhir menit ke enam, sang mahasiswa pun langsung menjawab: “bawa barometer ke puncak gedung, condongkan tubuh ke tepi gedung lalu jatuhkan barometer, hitung waktu jatuhnya, masukkan ke rumus S=Vot + 0,5at-squared Dimana Vo=0, maka Tinggi gedung = 0,5aT-squared.
Dosennya pun lalu mengaku kalah dan memberi nilai penuh kepada mahasiswa tersebut.
Saat Alexander meninggalkan kantor dosen sang mahasiswa, ia teringat bahwa sang mahasiswa punya jawaban lain untuk pertanyaan itu, lantas ia pun pergi untuk menemuinya dan menanyakan jawaban yang lain tersebut.
Sang mahasiswa langsung menjawab, “Kita bawa keluar barometer pada hari yang cerah, ukur tinggi barometer dan panjang bayangannya. Lalu ukur panjang bayangan gedung. Dengan menggunakan aturan proporsi yang sederhana kita dapat mengetahui tinggi gedung.”
Bagus kata Alexander, lalu ia bertanya lagi: “ada yang lainnya ???”
“Ada”, jawab sang mahasiswa. “Ada pengukuran yang sangat mendasar yang pasti bapak sukai. Kita bawa barometer dengan menaiki tangga, selagi menaiki tangga kita menandai dinding dengan panjang barometer, Lalu hitung jumlah tanda, dan ini memberikan tinggi gedung dalam satuan tinggi barometer.” (metode yang sangat langsung)
Mahasiswa berkata lagi, “Tentu saja bila ingin metode yang lebih canggih, kita bisa mengikat barometer ke ujung tali, lalu ayunkan seperti pendulum. Lakukan hal ini di jalan dan di puncak gedung. Dengan T=2(3,14) (L/g)^0,5 Maka kita dapat mengetahui gravitasi di jalan dan di puncak gedung. Dengan perbedaan ini, secara prinsip kita dapat mengetahui tinggi gedung.”
“Dengan pendekatan yang sama, bawa barometer ke puncak gedung, lalu ikat pada tali yang panjang, turunkan sampai ke jalan, lalu ayunkan sebagai pendulum. Lalu hitung tinggi bangunan menggunakan periode ayunan. Dimana Tinggi bangunan=L, g=9,8 ms-2T=periode -> nilainya dapat dicari. maka L=tinggi bangunan dapat dicari.”
Sang mahasiswapun menyimpulkan bahwa banyak cara untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun ada cara praktis (rumus praktis-The fast Solution-Metode penalaran-The king of the fast Solution) yang paling cepat dan paling akurat untuk menjawabnya. Yaitu: Kita bawa barometer turun kelantai bawah tanah Lalu ucapkan mantra ini, “Pak pengelola gedung, ini ada barometer bagus. Kalau bapak bisa memberi tahu berapa tinggi gedung ini, maka barometer ini saya berikan pada bapak.”
Pada saat Alexander menanyakan apakah sang mahasiswa mengetahui cara konvensional dalam menjawabnya, sang mahasiswa berkata bahwa ia sebenarnya tahu cara menjawabnya, hanya saja ia sudah bosan untuk selalu didikte oleh dosen-dosennya. (Disarikan dari Chicken Soup for the College Soul)
CATATAN:
Cara konvensional untuk mencari ketinggian dengan barometer adalah: Hitung selisih tinggi air raksa dibawah dan dipuncak gedung. P=P(rho) gh dengan p (rho) raksa=13600 kgm^-3. Hitung selisih P (tekanan) udara diatas dan dibawah gedung, lalu hitung h dengan g=13600 dan dP=dicari dahulu. Dari persamaan terlihat P (rho) berbanding terbalik dengan h. Dengan P(rho) Udara = 1Kgm^-3. Dari sana kita dapat mencari tinggi gedung.
Sebuah cerita yang selalu aku baca berulang-ulang untuk menampar diri sendiri dari ‘kesombongan textbook’!
![]()
*sedang sedih dan ingin sembunyi

keren…..hebat…tfs ya..
btw..napa sedih?
pertama, alexander itu orang garut bukan?
kedua, mau sembunyi dimana? sini kolong kasur gue tempat paling aman sedunia (padahal kasur gue ga ada kolongnya)
ketiga,kenapa jeng?
itu kisahnya Niels Bohr, fisikawan asal denmark yang memperoleh hadiah nobel dibidang fisika pada tahun 1922
keblug : trim bgt