Ya karena ga napsu, dan itu bukannya tanpa alesan.
Alesan yang pertama, setiap kali aku mendengar ‘Twilight’, aku enggak pernah berhasil mengkonotasikannya dengan suasana Rembang Senja seperti seharusnya, malah pikiranku melayang ke JAMBAN! Ugh
Dengerin deh,
Twilight…!!
Trus dengerin lagi
Toilet…!!
Ngerti maksudku kan?
Hohoho, jangan puji aku, aku memang pendengar yang baik. ![]()
*ngaciiir ditimpuk temen-temen yang protes
Alesan yang kedua nih,
Coba jawab dengan jujur, mana yang lebih mengagumkan, kemampuan mencintai seseorang yg sempurna, tampan, kaya, ber-volvo silver, anggun tak tercela atau kemampuan mencintai seseorang yang sangat manusiawi, terkadang hidungnya meler dan berupil, kadang dengan polosnya menggosok daki di kolam renang, atau kadang kentut dengan bau, masyaAllah, seperti Bantargebang overloaded? *lirik tetangga hihihi…
Aku? Mengagumi mereka yang mampu mencintai dengan cara kedua, tentu saja!
Karena ketika kehidupan percintaan kian dewasa, proses penyesuaian dan penerimaan ‘seseorang-satu-paket’ sangat menguras kesabaran dan juga kemampuan memaafkan, dan itu engga mudah.
Kisah cinta Bella-Edward ini ya engga bisa dibandingin dong. Hanya menawarkan euforia percintaan yang berembel-embel ‘happily ever after’.
Itu sih cinta monyeeet!
Mau jadi monyet? Nguk? Aku sing enggak hehehe…
So guys, silahkan ngebahas Twilight dari A ke Z, Z ke Z’, tapi klo aku milih jadi anak bawang dan enggak ikut-ikutan, enggak perlu toh menatapku penuh rasa prihatin. Peace atuh peace v^.^
Btw, novel selanjutnya judulnya New Moon ya? Kayak merek obat kuat…
*ooh itu Blue moon ding!

jiakakakaaa…..twaiylait…
Ya,memang pada dasarnya, mencintai sepaket dengan keikhlasan… menerima dengan ikhlas kl dia punya kepribadian. Mobil pribadi, rumah pribadi dan pribadi2 yg lain….*asal bukan istri pribadi*
Kabuuuuur aaahhh…
*subuh2 gak jelas*
wakakakak parah parah…!
*wis menyimak dengan terharu, belakangnya…gubrax!