Dalam satu sesi cuci darahnya, di akhir-akhir hidupnya, Ayah drop hingga tidak sadar dan mulai mengigau. “Suster… suster…” panggilnya lemah. “Ya, Pak?” jawab suster lembut. “Aku cinta… ” “Cinta siapa, Pak?” “Istriku… aku cinta istriku.” Dan pandangan Emak selalu menerawang setiap menceritakan kisah ini.
Ahh gilaa, berminggu-minggu tidak apdet karena kesibukan yang bejibun (alesan…alesan…). Harus bagi-bagi perhatian ke kantor, ke misoa, ke kerjaan sampingan, ke temen-temen. Jadi klo ada waktu dikiiiit aja, dipake bobok laah haha, keblug gitu lho. Apa lagi si emak datang, berlebaran di Bandung critanya. Ini pertama kalinya emak dateng berkunjung ke Bandung (lagi) setelah daku [...]
Satu lagi nih cerita eMak, apalagi klo bukan nostalgia masa kecilnya (maklum sekarang blio dah jadi nenek nenek wakakak… (ketauan ngomong gini bisa bisa aku di banjur kuah rawon!) Kali ini cerita tentang tilipisi. Dulu di Kotamadya Probolinggo nan bestari, tilipisi bukanlah barang yang bisa ditemukan dengan mudah, yang punya hanya orang orang tertentu [wong [...]