Bergunjing.
Orang-orang bergunjing. Tentang seorang wanita yang merengek di kaki suaminya. Suaminya bergegas pergi. Anaknya menatap bisu. Itu 20 tahun yang lalu.
Hari ini orang-orang bergunjing. Tentang seorang anak yang merengek di kaki bapaknya. Bapaknya bergegas pergi. Ibunya menatap bisu.
Ibu itu, anak yang menatap bisu 20 tahun yang lalu.
Cerita diatas adalah karya pertamaku yang mengikuti pakem fiksi mini. Dibuat karena jatuh hati dengan postingan2 fiksi mini karya mas Agus Noor (salah satu dari segelintir sastrawan Indonesia yg karyanya sudah bertebaran dimana-mana
) Simak saja salah satu karyanya yg menurutku imajinatif, ending tak bisa ditebak, pula ‘nakal’
Api Sinta
Sinta berdiri di tepi api penyucian yang berkobar. “Masuklah..,” ujar Rama.”Bila kau belum terjamah Rahwana, api itu akan menyelamatkanmu.”
Sinta menatap pangeran tampan itu dengan mata berkaca-kaca, sebelum akhirnya terjun dalam kobaran api. Semua yang hadir begitu lega ketika menyaksikan api itu perlahan padam: tubuh Sinta tak terbakar.
Hanya kedua payudaranya yang gosong.
Fiksi mini, menurut definisi beliau adalah ‘fiksi dengan kata tidak lebih dari 50kata, ada jg yg masih toleran bila jumlahnya 100kata‘. Bahkan penulis kaliber Ernest Hemingway cukup menuliskan :
For sale: baby shoes, never worn.
Enam kata!. Salah satu karya terbaik Hemingway yang lahir karena Ernest bertaruh dengan rekannya: bahwa ia mampu menulis novel lengkap dan hebat hanya dengan enam kata.
IT IS!! Singkat, jelas, padat, dan membekas lama karena menyisakan sesuatu yang ‘menggantung’ yang harus dijawab bukan oleh tuturan penulisnya, tapi oleh imajinasi pembacanya.
Hanya saja, karena keterbatasan kata yang digunakan dalam sebuah fiksi mini, rasanya agak-agak rancu dengan sebuah puisi.(Terus terang, membingungkan)
Syukurlah, (waktu pertama aku blogwalking belum ada) akhirnya mas Agus menyempatkan diri untuk menulis sebuah postingan yang mengulik habis fiksi mini. Fiksi mini menyuling cerita menyuling dunia. Postingan ini tidak saja menjawab cara membedakan sebuah fiksi mini dengan puisi, tapi juga sejarah fiksi mini, namanya di berbagai penjuru belahan dunia, dan cuplikan fiksi mini penulis2 senior lainnya. Penjelasannya sangat jelas dan mencerahkan.
Dan kalaupun ternyata masih ada yg ingin ditanyakan atau didiskusikan, jangan ragu2 untuk mengontak mas Agus, beliau sangat welcome dan supporting kita untuk tetap bersemangat menulis, sekalipun kita seorang newbie dengan karya acak adut
<== newbie itu gw maksutnye. Pertanyaan2ku dan juga ‘bergunjing’, tidak saja langsung dijawab keesokan harinya, tapi juga diedit dan didukung!
Ada suprise, dan imajinasi, dalam fiksi minimu itu: kita bisa membayangkan adegan incest dalam keluarga itu, sesuatu yang mendebarkan, yang mengerikan, dalam cerita yang sependek itu. nah berarti sudah ada kekuatan dalam fiksi minimu itu.
Tinggal kamu belajar cara berbahasa yang efektif. Singkat padat, tapi luas dan imajinatif. karena itulah prasarat utama fiksi mini: ringkas, tangkas, tapi cerdas dan seperti hamparan imajinasi yang luas.
AN
Beliau sangat membumi deh. So, selamat membaca, selamat berkenalan dengan fiksi mini, dan selamat berimajinasi…
Bunda
Subuh jam lima pagi, gadis kecil berwangi sabun menyongsong wanita berok mini, bermake-up tebal dan nampak kelelahan.
“Bundaaa…”, lantas mereka berpelukan lalu berciuman lalu tertawa. Haru.
Ada memar membiru di leher bundanya. Juga jakun.
suka yus… bagus… ikutan ah
Keblug :
ayo ayo…! tak tunggu karyanya…:)