Mari kita sebut beliau Mbah Sumo. Temennya emak.
Karena namanya sudah mbah-mbah, tak heran penyakit datang lagi, datang lagi. Percis ketombenya Anggun C Sasmi klo ga pake pant**e.
(Tolong ya, itu dibaca pantene, bukan pantate.)
Suatu hari Mbah Sumo sakit linu-linu di dengkul. Sudah ditempeli koyo, salep, param segala rupa tapi ga sembuh-sembuh. Mbah Sumo pun siap-siap ke alternatif.
Bukan. Bukan karena Mbah Sumo ini anti kedokteran dan obat-obatan kimia, tapi karena blio pensiunan, keuangannya seret.
Klo disaranin ke dokter, jawabnya “Aku engga ku-ku!”
(Mbah Sumo tereak di latar belakang: “Sing iku ndak usah dibilang2 nduk!! Tp klo ada yg nanya rekening sih, kasih tahu saja.)
Dukun yang direkomendasikan ke Mbah Sumo ini cukup terkenal, meski tak bs dibilang murah juga. Tapi worth it dicoba, soale “dukun-e suakti mbah!” katanya.
Dengan harapan sembuh, Mbah Sumo bertandang ke rumah Mbah Dukun.
Pengobatannya sederhana.
Dengkul Mbah Sumo diusep-usep. Lalu Mbah Dukun mengambil pelepah daun pepaya kemudian menempelkannya ke dengkul Mbah Sumo. Dan, “Srooooot!!” Mbah Dukun menyedot pelepah ntu…
“Pueh!” Mbah Dukun meludah. Mbah Sumo melotot.
Bukan. Bukan karena Mbah Dukun meludahi Mbah Sumo, tapi karena ditangan Mbah Dukun tiba-tiba muncul kira-kira 4 biji paku hasil pueh-pueh tadi.
Itulah paku-paku yang menyebabkan Mbah Sumo susah tidur karena ngilu. (selain karena tunggakan listrik dan air tentunya).
Oh! Mbah Sumo seketika tersenyum. Sumber sakitnya sudah dibuang. Dia sudah sembuh.
Mbah Sumo merogoh kocek. 50rb yang berharga diserahkan meski dengan berat hati. Tapi demi kesembuhan tak apalah.
Sehari, sakit Mbah Sumo reda. Dua hari, lha kok balik lagi. Mbah Sumo merasa curiga.
Diliputi perasaan ingin tahu, Mbah Sumo memutuskan mendatangi dukun itu sekali lagi. Kali ini ditemani Mbah In istrinya, (istrinya Mbah Sumo, bukan istri Mbah Dukun) setelah sebelumnya Mbah In ditraining untuk melakukan sesuatu.
Bisik-bisik. Mbah In mengangguk-angguk.
Singkat cerita, Mbah Sumo tampak duduk manis bersama Mbah Dukun yang dengan mesra mengelus-elus dengkulnya.
Dan ketika Mbah Dukun meraih pelepah pepaya siap-siap menyedot kembali sakit yang diderita Mbah Sumo, trik dijalankan. Mbah In langsung ngajak ngobrol Mbah Dukun.
“Mbah…Mbah itu baju si mas nda usah dibuka?” samber Mbah In.
(ga ada hubungannya ya antara dengkul sama buka baju, tapi intinya adalah Mbah In memancing Mbah Dukun bicara. Biar mangap! )
Mbah Dukun gelagepan.
Tinta siap doi dengan serangan mendadak begondang.
Alis Mbah Dukun seketika menyatu, matanya melotot, pipinya gembung tapi bibir terkatup rapat. Gesturnya menyuruh Mbah In diam. Tapi suaranya ga meyakinkan seperti orang lagi kumur-kumur
“O’ok… O’ok… O’OOKK!!”
Mbah Sumo dan Mbah In pandang-pandangan. Sadarlah mereka sudah tertipu mentah-mentah. Paku-paku itu bukan muncul dari sakit di dengkul Mbah Sumo tapi sudah disiapkan dan diemut Mbah dukun.
Mbah Sumo meradang, ia membanting duit 30rb.
Sebenarnya ia ingin mem-pueh-pueh mbah dukun. Kalo perlu diajak duel.
Tapi ndak berani. Sudahlah.
Mbah Sumo pulang dengan gontai.
Akhirnya Mbah Sumo pergi ke dokter.
Cyatatan:
Seperti yg diceritakan emak hasil curcol penuh drama Mbah Sumo dan Mbah In. The End

buah emang sering jatuh gak jauh dari emaknya ya blug?… kebayang donk gmna ekspresi emak saat meraga’in gaya mbah sumo pas blg “Aku engga ku-ku!”:D
#just proud to be keblugholic :p
Kayaknya emang cuma Mbah Google yang bener-bener sakti.